Takengon,Aceh Tengah

Takengon,kota yang di juluki Negeri di atas awan dengan di kelilingin gunung-gunung yang sejuk.

Kopi Gayo

Kopi Gayo adalah salah satu kopi terbaik di dunia,karena cita rasanya yang khas dan banyak di minati wisata asing dan domestik.

Pacuan Kuda Tradisional Gayo

Pacu kuda adalah olahraga tradisonal khas gayo yang memacu lari kudanya di arena pinggiran Danau Lut Tawar (dalam air danau).

Kerawang Gayo

Pakaian Adat yang selalu di kenakan saat acara besar,saat pakaian ini di kenakan menjadi kebanggan sendiri,karena di setiap motif jaitan memilik makna atau nilai yang sangat besar.

Didong Gayo

Didong Gayo adalan salah satu kesenian tradisional gayo,tepukan tangan dan nyanyian dari seorang ceh (vokalis),dulu nya Didong adalah media penyebaran Agama,dan sampai sekarang masih di gunakan,di setiap acara orang Gayo selalu menampilkan Didong di malam hari tetapi dengan nama Didong Jalu (adu karangan kata)

Selasa, 17 November 2015

Adat Gayo Bernuansa Islami

Urang Gayo mempunyai adat-istiadat yang khas. Kental dengan nuansa Islami. Berbagai ungkapan, tersurat dalam pepatah-pepatah bijak dengan makna yang dalam dan banyak ditemukan dalam kebudayaan Gayo. Salah satunya adalah ungkapan: Asal Linge Awal Serule, petuah bijak yang menyiratkan jati diri. Ungkapan tersebut berarti kalau Urong Gayo berasal dari Linge dan berawal dari Selure. Ungkapan Asal Linge Awal Selure juga adalah sebuah semboyan. Dalam kesenian Saman di setiap pembukaannya selalu menyebutkanAsal Linge Awal Selure. Ini dimaksudkan sebagai sebuah indentitas diri Urang Gayo.

Kerajaan Linge pada masa kejayaannya, adalah pusat peradaban Gayo. Bahkan salah satu putra kerajaan Linge telah memberikan konstribusi besar terhadap berkembangnya kerajaan Aceh yang dulu kedaulatannya sampai ke Negeri Johor Malaysia.

Murip I kanung edet, mate I kanung bumi, (Hidup di kandung adat mati dikandung bumi) adalah ungkapan yang menggambarkan penataan kehidupan bermasyarakat Gayo. Kalimat ini bermakna betapa urang gayo sangat menghargai adat dalam kehidupannya. Murip I kanung edet, mate I kanung bumi, berarti segala hal perbuatan dalam masyarakat harus sesuai dengan adat dan sesuatu yang mutlak dan tidak boleh dilanggar.

Keterikatan antara adat Gayo dengan Islam tercermin dalam ungkapan edettullah, hukummullah. Dalam adat Gayo salah satu pungsi adat adalah untuk menjaga syariat Islam. Ini sesuai dengan ungkapan edet mumegeri hokum (Adat yang memagari hukum), yang berarti adatlah yang menjaga hukum (syariat).

Contoh eratnya keterkaitan adat dengan Syariat Islam adalah ketentuan larangan perkawinan satu belah atau dalam satu kelompok, dalam masyarakat Gayo. Belah dalam masyarakat Gayo antara lain Bukit, Gunung, Lot dan Suku. Dalam hukum adat Gayo, dilarang melakukan perkawinan antara orang yang berasal dari belah yang sama, umpamanya sama-sama belah Bukit. Ketentuan ini di maksudkan agar tidak terjadi pelanggaran yang menjurus kepada perzinahan. Dengan adanya larangan tersebut, akan timbul anggapan bahwa orang yang berada dalam satu belah itu merupakan muhrim dan harus saling menjaga.

Masih banyak ungkapan dalam adat Gayo seperti Munyuket enti rancung,  munimang enti mangik (kalau menakar jangan lebih, menimbang jangan kurang). Pelolo bedame, luke besalin, kemung berpenumpu (Berkelahi berdamai, luka berobat, dan dipertanggujawabkan). Sikul I kucaken, I amat mutubuh I pangan murasa.Simumbuntul enti itamuni, silemah entu ikuruki. (Yang besar dikecilkan, dipegang berbadan, dimakan punya rasa, yang berbukit jangan ditambuni, yang lemah jangan disakiti).

Kebudayaan Gayo timbul sejak orang Gayo bermukim di wilayah ini dan mulai berkembang sejak kerajaan Linge Pertama abad ke X M, atau abad ke IV H. Meliputi aspek kekerabatan, komunikasi sosial, pemerintahan, pertanian kesenian dan lain–lain.

Adat Urang Gayo menganut Prinsip Keramat Mupakat, Behu Berdedale yang punya makna kemulian didapat kerana mufakat dan berani sama-sama.  Ungkapan lainTirus lagu gelas belut lagu umut rempak lagu resi susun lagu belo yang punya arti kuatnya persatuan orang gayo yang tidak mudah dicerai berai.

Nyawa sara pelok ratep sara anguk punya arti tekad yang melahirkan kesatuan sikap dan perbuatan. Selain itu banyak lagi terdapat kata – kata pelambang yang mengandung kebersamaan dan kekeluargaan serta keterpaduan. Berbagai ungkapan tersebut menggambarkan tentang Pemerintah dan ulama saling harga menghargai serta menunjak pelaksanaan agama dalam adat Urang Gayo.
Di dalam sistem nilai budaya Gayo telah merumuskan prinsip–prinsip adat yang disebut kemalun ni edet. Prinsip ini menyangkut “harga diri” (malu) yang harus dijaga, diamalkan, dan dipertahankan oleh kelompok kerabat tertentu, kelompok satu rumah (sara umah), klen (belah), dan kelompok yang lebih besar lagi.

Prinsip adat meliputi empat hal berikut ini. Pertama, Denie – terpancang adalah harga diri yang menyangkut hak – hak atas wilayah. Kedua, Nahma teraku adalah harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah. Ketiga, Bela mutan ialah harga diri yang terusik karena ada anggota kelompoknya yang disakiti atau dibunuh. Keempat adalah Malu tertawan yang merupakan harga diri yang terusik karena kaum wanita dari anggota kelompoknya diganggu atau difitnah pihak lain.
Didalam sistem adat Gayo ada tahapan adat yaitu, mukemel (harga diri ), tertip (tertib), setie (setia), semayang Gemasih (kasih sayang), mutentu (kerja keras), amanah (amanah), genap mupakat (musyawarah), alang tulung (tolong menolong), bersikemelen (kompetitif)
Tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Sistem nilai budaya Gayo terbagi menjadi nilai “utama” yang disebut “harga diri” (mukemel). untuk mencapai harga diri itu, seorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai lain, yang disebut nilai “penunjang”. Nilai – nilai penunjang itu adalah: “tertib”, “setia”, “kasih sayang”, “kerja keras”, “amanah”, “musyawarah”,  “tolong- menolong”.

Masakan Yang Hanya Ada di Dataran Tinggi Gayo

1.Masam Jeng
              Masam Jeng adalah masakan gulai ikan khas Gayo. Biasanya ikan yang digunakan adalah ikan mujahir. Kalau ikan mujahir di pesisir Aceh yang kecil-kecil seukuran telapak tangan. Ikan mujahir di dataran tinggi Gayo umumnya berukuran besar, bahkan ada yang mencapai 1 kg per ekor. Dagingnya yang manis dan lembut menjadikan ikan ini pilihan utama pada beberapa masakan khas Gayo.







              Ikan Mujahir dimasak dengan bumbu kunyit, cabai, bawang merah dan bawang putih. Penggunaan periuk dari gerabah akan memberikan hasil rasa yang lebih optimal. Yang menjadi pemberi cita rasa khas adalah daun gegarang, daun yang tumbuh di wilayah pegunungan Gayo dempan. Aroma khas gegarang  dan sensasi kebas yang ditimbulkan empan di lidah, memberikan ledakan rasa yang tidak ditemukan pada gulai ikan biasa. Penambahan kacang koro memberikan rasa manis berlemak yang memperkuat dan melengkapi pengalaman istimewa menikmati gulai khas gayo ini.Sajikan dengan nasi panas, dan ditutup dengan menikmati kopi arabica gayo yang melegenda. Waktu makan siang yang akan menjelma menjadi perjalanan wisata kuliner tersendiri


2.Pengat
              Pada dasarnya Pengat adalah Masam Jeng yang dimasak dengan sedikit kuah, menggunakan periuk gerabah. Proses memasaknya sederhana. Setelah semua bahan dimasukkan, periuk berisi bahan-bahan didiamkan di atas api kecil dalam jangka waktu lama. Hingga kuahnya menyusut, hilang. Meninggalkan ikan dengan bumbu pekat, dan sensasi aroma asap terbakar. Tantangan memasak Pengat adalah memastikan tingkat ‘hangus’ pada dasar masakan yang tepat..




3.Cecah Angur
             Umumnya Tamarillo,atau Terong Belanda, digunakan sebagai jus. Tapi di dataran tinggi Gayo, anda akan menemukan terong belanda, biasa disebut angur (ada yang menyebutnya agur), digunakan sebagai bahan pembuat sambal terasi.Hampir sama dengan sambal terasi biasa, hanya saja alih-alih menggunakan tomat, orang Gayo menggunakan terong belanda. Hasilnya, kombinasi rasa khas yang unik, dan sangat segar. Rasa asam dan aroma khas terong belanda menciptakan karakter rasa yang tidak bisa ditemukan di sambal terasi biasa. Padukan cecah yang diolah mentah ini dengan nasi hangat, ikan mujahir digoreng, dan rebusan pucuk jipang alias labu siam atau chayote. Dijamin sarapan, makan siang, atau makan malam anda akan sangat istimewa. Sederhana, tapi mewah.


4.Cecah Bajik
            Cecah bisa diartikan sambal atau semacam rujak. Cecah Bajik adalah menu khas yang hadir saat ramadhan. Walaupun kadang-kadang bisa ditemukan di bulan lainnya. Rasanya manis, dan katanya membuat perut ‘dingin’. Cocok untuk berbuka, dan cukup memberikan energi alami.
Bahannya sederhana. Bajik atau bakal buah nangka muda, jambu klutuk (guava) muda, pisang muda, gula aren/gula merah/gula nira, dan sedikit garam. Semua bahan ditumbuk kasar. Ada yang menambahkan nenas, ada juga yang tidak.








5.Cecah Kekulit (Cecah Reraya / Cecah Hari Raya)

             Bahan bakunya adalah kulit kerbau, hati kerbau, dan jeroan yang direbus dengan sedikit garam. Kemudian dirajang halus. Dicampurkan dengan bumbu yang juga sudah digiling halus. Serai, jahe, empan (andaliman), lengkuas, bawang merah, bawang putih, dan garam. Bumbu halus ini mentah, tdk ditumis lagi sehingga rasanya segar.Rajangan halus bahan rebusan tadi, dicampurkan dengan bumbu, lalu ditambahi air perasan kayu weng (wing/ uweng) dan air jeruk.Kabarnya ini adalah hidangan khas dari wilayah Toa. Dan menjadi hidangan wajib saat hari raya
















Jumat, 14 Agustus 2015

Didong Gayo

Didong

              Didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur Tari, Vokal, dan Sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Salah seorang seniman yang peduli pada kesenian ini adalah Abdul Kader To'et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.


              Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran Agama Islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.




              Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.
              Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.
               Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk Kesenian lain yang ada di Aceh.















Pakaian Adat

Kerawang Gayo
 
              Kerawang atau sering disebut "Kerawang Gayo" (Penuturan dalam Bahasa Gayo); Adalah Busana Adat Suku Gayo yang Biasanya dipakai saat melangsungkan acara Resepsi Pernikahan, acara tarian adat dan budaya secara turun-temurun. Kerawang Itu Sendiri Merupakan hasil cipta karsa dari manusia yang menjadi nilai estetika dalam prilaku kehidupan yang kemudian menjadi budaya. Sedangkan budaya itu sendiri adalah hasil refleksi manusia dengan alam.




Motif Kerawang Gayo
            
              Seiring Perkembangan Kehidupan Budaya yang turun-temurun dalam hal melestarikan budaya kini Kerawang Gayo Telah Menjadi Salah satu Seni Ukir bagi kalangan orang Gayo itu sendiri. Ukiran Kerawang saat ini menjadi salah satu ukiran yang paling diminati oleh masyarakat lokal bahkan luar daerah Gayo. Ukiran yang terdapat di kerawang Gayo kerap di desain menjadi pakaian yang sedang ngetren saat ini, khususnya pakaian wanita baik anak-anak, remaja dan dewasa.
Motif Kerawang Gayo yang khas setiap warna dan ukiran memiliki makna dan arti tersendiri, juga yang membedakan baju adat satu daerah dengan daerah lain adalah warna dan motif yang terdapat pada baju adat.
              Berikut beberapa keterangan tentang motif pakaian kebanggaan masyarakat Negeri Seribu Bukit tersebut yang ditulis oleh DRS. Isma Tantawi, M.A dan DRS. Buniyamin S dalam bukunya berjudul Pilar-Pilar Kebudayaan Gayo. Motif-motif yg terdapat pada adat Gayo adalah: mata itik, pucuk rebung, sesirung, leladu, mun berangkat, tulen iken, puter tali, bunge kipes, gegaping, panah dan motif selalu. Untuk warna dasar kerawang Gayo memakai kain warna item (hitam, Gayo: Red) sedangkan untuk motifnya menggunakan campuran warna ilang (merah), putih (putih), ijo (hijau) dan using (kuning). Berikut keterangan atau makna dari warna-warna yang digunakan dalam motif Kerawang Gayo:
  1. Hitam: merupakan hasil keputusan adat,
  2. Merah: sebagai tanda berani (mersik) bertindak dalam kebenaran,
  3. Putih: sebagai tanda suci dalam tindakan lahir dan batin,
  4. Hijau: sebagai tanda kejayaan dan kerajinan (lisik) di dalam kehidupan sehari-hari,
  5. Kuning: sebagai tanda hati-hati (urik) dalam bertindak.
Jadi, berdasarkan keterangan dari warna-warna kerawang, Masyarakat Gayo dilambangkan sebagai masyarakat yang Mersik (berani), Lisik (rajin) dan Urik (teliti). Makna Motif yang terdapat pada pakaian adat Gayo sendiri adalah sebagai berikut:
  • MATA ITIK
Mata Itik mempunyai makna bahwa yg ikut menentukan dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, adalah penghulu, ulama dan golongan cerdik pandai.
  • PUCUK REBUNG
Pucuk Rebung mempunyai makna masyarakat Gayo Lues mencintai keadilan dan kedamaian.
  • SESIRUNG
Sesirung mempunyai makna bahwa dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues selalu salaing membantu.
  • LELADU
leladu bermakna bahwa masyarakat Gayo Lues memiliki harkat dan martabat dan berwibawa.
  • MUN BERANGKAT
Mun Berangkat bermakna bahwa masyarakata Gayo Lues mempunyai cita-cita dan tata cara dalam kehidupan bermasyarakat.
  • TULENNI IKEN
Tulenni Iken bermakna masyarakat Gayo Lues memiliki sifat untuk membela diri dalam kebenaran. Takut karena salah dan berani karena benar.
  • PUTER TALI
Puter tali bermakna dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues terdapat kesatuan dan persatuan.
  • BUNGE KIPES
Bunge kipes mempunyai makna bahwa Masyarakat Gayo Lues mempunyai harmonis antara manusia dengan Tuhan ( Hablumminallah), manusia dengan manusia ( Hablumminannas) dan manusia dengan lingkungannya.
  • GEGAPING
Gegaping mempunyai makan bahwa masyarakat Gayo Lues memiliki ketaatan terhadap pemerintahan, agama, dan adat istiadat. Murip Ikanung edet mate ikanung ukum (agama).
  • BUNGE PANAH
Bunge panah memilki makna bahwa masyarakat Gayo Lues memiliki sifat keterbukaan dalam menerima dan menjalankan ketentuan tang tidka bertentanagan dengan agama dan adat.
  • MOTIF SELALU
Motif selalu bermakna bahwa masyarakat Gayo memiliki sifat kejujuran dan ketulusan hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Referensi:
Wikipedia "https://id.wikipedia.org/wiki/Kerawang"

Pacuan Kuda Tradisional Gayo

            
             Penyelenggaraan even Pacu Kude (Kuda-red) di Gayo selalu ditunggu-tunggu baik oleh warga setempat maupun warga kabupaten di sekitarnya.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, di dataran tinggi Gayo even ini digelar 4 kali dalam setahunnya, masing-masing 2 kali di kabupaten Aceh Tengah, dan 1 kali di Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues. Pesertanya pun kian lama semakin bertambah dan kualitas perlombaan juga semakin baik, sayangnya nilai ke-tradisional-an pacu kude kian memudar disebabkan oleh beberapa faktor teknis dan non teknis.
              Dalam beberapa catatan sejarah serta dari cerita mulut ke mulut, pacu kude di Gayo dimulai dari Bintang, kemukiman paling timur danau Lut Tawar Aceh Tengah. Mengutip dari buku Pacu Kude; Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo yang di tulis Piet Rusydi dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh tahun 2011, pacu kude pertama-tama digelar sekitar tahun 1850 dengan arena pacuan melintasi Wekef hingga Menye berjarak lebih kurang 1,5 kilometer, rutenya memanjang, bukan memutar seperti saat ini. Saat itu, pacu kude diselenggarakan saat luah berume atau lues belang (setelah panen padi-red).
Sebelum Urang Gayo mengenal sarana transportasi moderen, kuda memiliki peran penting dalam banyak hal di Gayo terutama sebagai sarana transportasi barang dan manusia serta kegiatan olah tanah di sawah.
          Selanjutnya menurut AR. Hakim Aman Pinan dalam bukunya Pesona Tanoh Gayo, menyatakan pacu kude di pante Menye Bintang diselenggarakan saat pagi dan sore hari, setelah ashar. Satu sisi line pacuan dibatasi dengan air danau Lut Tawar dan sisi lainnya (timur) dengan pagar Geluni. Saat itu joki tidak dibenarkan memakai baju alias telanjang dada.
Saat itu tidak ada disediakan hadiah, para pemenang hanya memperoleh “Gah” atau nama besar (marwah-red). Biasanya, pacu kude dilanjutkan dengan perayaan atau syukuran luah munoling (paska panen padi) yang biayanya diperoleh dengan berpegenapen (saling menyumbang biaya dan perlengkapan lainnya).
             Versi lainnya, menurut ditulis Piet Rusydi, pacu kude adalah kegiatan iseng para pemuda setelah munoling (panen padi) khususnya di Bintang. Kuda-kuda yang berkeliaran saat Lues Belang ditangkap dengan opoh kerung (kain sarung-red) dan di pacu. Tradisi ini tanpa disadari dijadikan even tetap mulai tahun 1930 yang melibatkan kuda-kuda serta joki dari beberapa kampung.

Pacu kuda di Gayo Lues, Sabtu 31 Agustus 2013. (Kha A Zaghlul)
Pacu kuda di Gayo Lues, Sabtu 31 Agustus 2013. (Kha A Zaghlul)

                Karena masyarakat Gayo sangat antusias menyaksikan pacu kude ini, sebelumnya di tahun 1912 penjajah Belanda melihat menggelar pacu kude di Takengon dengan lintasan lurus sepanjang jalan depan Rumah Sakit lama (Kampus STAIN Gajah Putih sekarang) hingga Tan Saril. Namun karena membahayakan warga, pacu kude kemudian dipindahkan ke lapangan Belang Kolak yang kemudian bernama Gelengang Musara Alun, lintasan pacu kude berubah menjadi oval, diberi pagar pembatas berupa tersik (tonggak kayu) serta radang (sejenis rotan).
            Menurut Almarhum Tgk. H. M. Ali Salwani yang dinyatakan kepada salah seorang mahasiswa Universitas Abulyatama Aceh Besar, Muhammad (1996) dalam laporan penelitian yang berjudul Eksistensi Olahraga Pacuan Kuda Tradisional di Kabupaten Aceh Tengah Tahun 1995, even ini di gelar Belanda untuk memeriahkan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus.
               Dari sumber lain, saat itu mulai disediakan hadiah berupa piagam dan jam Beker (Weker). Karena hadiahnya Beker sebutan kuda pemenang hingga saat ini masih disebut kuda Beker alias kuda kuda juara. Uniknya, jika kuda betina yang memperoleh juara maka dinamakan sebagai Kude Dompet, tidak jelas kapan istilah ini muncul.
               Saat penjajahan Jepang, satu versi menyatakan tetap ada even pacu kude seperti dituturkan  mantan Juru Penerang (Jupen) Kabupaten Aceh Tengah, Abd. Majid. Tapi versi lain menyatakan tidak pernah diselenggarakan karena saat itu tentara Jepang mengambil alih kepemilikan kuda sebagai sarana transportasi mereka. Selain itu, masyarakat Gayo sangat menderita saat itu, bahkan pakaian yang dikenakanpun dibuat dari kulit kayu dan goni.
             Kelas atau kategori perlombaan saat itu hanya dikenal tiga kelas yakni kelas kuda muda (usia 2-4 tahun), kuda dewasa (4-6 tahun) dan kelas kuda tua (berusia diatas 6 tahun), jantan dan betina. Lintasan pacu bagi kuda muda berjarak satu  keliling (putaran) lapangan Musara Alun (lebih kurang 1 kilometer), kuda dewasa 2 keliling dan kuda tua sejauh 3 kali keliling.
             Dulu, menentukan kategori pacu untuk seekor kuda tidak terlalu rumit dan langka terjadi percekcokan, selain jumlah kuda peserta masih terbilang sedikit juga faktor kejujuran dan kebersamaan para pemilik kuda lebih dikedepankan ketimbang menjadi juara.
Paska kemerdekaan RI, mulai tahun 1950 pacu kude juga sempat digelar oleh masyarakat, saat itu kuda-kuda dari Bintang, Kenawat, Pegasing dan Kebayakan yang paling aktif ikut serta. Bahkan saking antusiasnya warga dan peserta pacu kude dari Kenawat, di Gelengang Musara Alun sempat ada nama tempat yang agak tinggi dibanding bagian lapangan lainnya dinamakan “Buntul Kenawat”, di lokasi ini berkumpul kuda-kuda, joki dan pendukung dari Kenawat.
Seiring dengan terbentuknya kabupaten Aceh Tengah tahun 1956, penyalenggaraan even pacu kude diambil alih oleh Pemerintah Aceh Tengah.

Pacuan kuda Gayo di Lapangan Sengeda Bener Meriah. (LGco-Kha A Zaghlul)
Pacuan kuda Gayo di Lapangan Sengeda Bener Meriah. (LGco-Kha A Zaghlul)

             Penyelengaraan pacu kude terus berlanjut yang digelar dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam sejarahnya, pacu kude Gayo sempat di gelar selain memperingati HUT RI yakni pada bulan Maret tahun 1992 yang digagas oleh Dandim 0106 Aceh Tengah.
              Pacu kude Gayo juga sempat diselenggarakan di Banda Aceh di tahun 1994, persisnya di lapangan Jeulingke Banda Aceh. Saat itu, tokoh masyarakat Gayo, Husni Darma menjabat sebagai Pimpinan Proyek (Pimpro) di Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Aceh.
Saat bupati Aceh Tengah di jabat oleh Drs. Buchari Ishaq, persisnya di tahun 1995 melalui Dinas Peternakan mengglirkan program peningkatan kualitas kuda pacu dengan mendatang bibit kuda pejantan dari Padang Sumatera Barat yang kemudian juga kuda-kuda pejantan dari Australia. Keturunan dari kuda-kuda hasil kawin silang ini kemudian dikenal dengan nama kuda Astaga atau kuda blasteran Australia-Gayo yang ciri-ciri posturnya lebih tinggi dan larinya lebih cepat.
Karena pengunjung pacu kude semakin banyak, Gelengang Musara Alun dinilai tidak cocok lagi sebagai tempat penyelenggaraannya. Dan saat bupati Aceh Tengah dijabat Drs. H. Mustafa M. Tamy dengan persetujuan masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), di tahun 2002 penyelenggaraan pacu kude dipindahkan ke Pegasing, persisnya di Lapangan H. Muhammad Hasan Gayo Belang Bebangka.
           Seiring dengan pemindahan arena pacu kude ini, kuda peserta juga semakin meluas, sebelumnya hanya seputar Aceh Tengah, termasuk kabupaten Bener Meriah sebelum dimekarkan dan dari kabupaten Gayo Lues yang dalam sejarahnya telah mengenal pacu kude sejak tahun 1936.
Penyelenggaraan pacu kude di Takengon Kabupaten Aceh Tengah semakin diminati, bukan saja oleh warga setempat namun dari pesisir Aceh, Sumatera Utara bahkan mancanegara. Even ini menjadi salah satu even di Aceh yang paling diminati wisatawan. Dan setelah ditetapkannya Hari Jadi Kota Takengon itu pada 17 Februari 1577 oleh DPRK Aceh Tengah dengan  Qanun Kabupaten Aceh Tengah nomor 10 tahun 2010 penyelenggaraan pacu kude sejak tahun 2011 menjadi 2 kali dalam setahun, memperingati HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus dan memperingati HUT Kota Takengon di bulan Februari.
              Kabupaten Bener Meriah yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2005 juga mulai menggelar even ini sejak tahun 2006 di lapangan Sengeda yang berlokasi di kaki Burni Telong  berdekatan dengan Bandar Udara (Bandara) Rembele dibangun saat Ir. Tagore Abubakar sebagai Bupati. Di Bener Meriah, pacu kude digelar dalam memperingati Hari Jadi Kabupaten yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Januari 2004.

Keseharian anak-anak Gayo dengan kuda di danau Lut Tawar. (Foto : Khalisuddin)
Keseharian anak-anak Gayo dengan kuda di danau Lut Tawar. (Foto : Khalisuddin)

             Sementara di Kabupaten Gayo Lues yang dimekarkan dari Aceh Tenggara dengan Dasar Hukum UU No.4 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002 juga menggelar pacu kude dalam memperingati Hari Jadi kabupaten tersebut atau memperingati HUT Kemerdekaan RI sejak tahun 2009 yang pertama digelar di Buntul Tajuk dan sejak tahun 2010 pacu kude mulai digelar di lapangan Buntul Nege setelah dipandang layak digunakan.
              Ada satu yang selalu terngiang di telinga  warga Gayo saat digelarnya Pacu Kude, yakni teriakan panjang saat kuda dilepas (start) oleh Master of Ceremony (MC), “wasaluaaaaaleeeeeeeee” itulah pekikan khas jika kuda sedang berlari berpacu menuju garis finish. Pekikan ini, tanpa disadari juga sebagai aba-aba bagi pengunjung untuk tidak lalu lalang di arena pacu kude.
              Aturan teknis pacu kude juga tak lepas dari dinamika sesuai perkembangan zaman. Dulu cara start pacu kude hanya dengan selembar bendera yang diikuti dengan aba-aba “lepas”. Kuda yang akan berpacu dipegang oleh satu orang dan satu orang lainnya masing-masing berada dibelakang kuda untuk menghalau atau memecut kuda agar berlari. Metode start ini kerap menjadi biang keributan antar pemilik dan joki sehingga pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga mulai memakai Starting Gate sebagai alat melepas kuda pacu. Sejak dipakainya alat ini, nyaris tidak terdengar lagi keributan.
Seiring dengan makin berkualitasnya kuda pacu, para joki juga mulai memakai pelana dan alat keamanan lainnya saat memacu kuda. Pelana ini umumnya dipakai pada kuda-kuda yang bertanding di kelas A, bukan di kuda lokal.

Banyak “ter” nya
            
Pacu kude di Gayo menurut Pengurus Besar Persatua Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PB-PORDASI), yang berkunjung ke Takengon saat pacu kude bulan Nopember 2013, Drh. Sridadi Wiryosuhano paling banyak “ter”nya di Indonesia.
             Pacu Kude Gayo itu “terunik” karena ketentuan pacuan berdasarkan tinggi badan dan umur kuda sementara di aturan PORDASI itu tidak dikenal. Selanjutnya “terbanyak” pesertanya yakni tidak kurang dari 300 ekor kuda sementara di even lain di Indonesia hanya beberapa ekor kuda saja. Lalu “terbanyak” penontonnya, didaerah lain di Indonesia tidak ada even pacu kuda yang menyedot puluhan ribu orang.
          Selanjutnya “terbahaya” karena umumnya para joki tidak dilengkapi dengan peralatan pengaman seperti pelana, helm, kacamata dan sepatu. Selain itu penonton juga bisa dengan leluasa masuk ke lintasan pacu saat kuda sedang berlari kencang. tercatat beberapa kali terjadi kecelakaan baik menimpa joki maupun pengunjung bahkan beberapa diantaranya hingga meninggal dunia terlindas kuda.

Referensi :
AR. Hakim Aman Pinan, Pesona Tanoh Gayo, Takengon, 2013
Piet Rusdi, Pacu Kude: Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo, Balai Pelestarian dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2011
Muhammad, Laporan Penelitian Eksistensi Olahraga Pacuan Kuda Tradisional di Kabupaten Aceh Tengah, Universitas Abulyatama, 1995
Kata PB PORDASI Pacu Kuda Gayo Paling “Ter” di Indonesia | Media Online Dataran Tinggi GAYO | www.lintasgayo.co

Kopi Gayo Arabica


              Kopi Gayo cukup terkenal di dunia karena memiliki aroma dan kenikmatan yang khas dan jika di cupping atau di test rasa dan aroma di daerah gayo hampir memiliki cita rasa kopi yang ada di seluruh dunia, ini disebabkan oleh faktor ketinggian dan beberapa aspek lain yang menjadikan kopi gayo terbaik, ini dibuktikan dengan beberapa kali kopi gayo meraih penghargaan sebagai kopi terbaik dunia. Meski terjadi krisis di Eropa, tak mengurangi permintaan kopi asal dataran tinggi Tanoh Gayo di pasar dunia. Kopi dari daerah gayo juga merupakan kopi termahal di dunia ini terbukti pada saat pameran kopi dunia yang diselenggarakan organisasi Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Portland, Oregon Convention Center, Amerika Serikat. Negara tujuan terbesar ekspor kopi asal Dataran Tinggi Tanoh Gayo yang meliputiKabupaten Aceh Tengah,Bener Meriah dan Gayo Lues itu adalah Amerika Seriket dan Uni Eropa.
              Kopi arabika dari Dataran Tinggi Gayo, telah dikenal dunia karena memiliki citarasa khas dengan ciri utama antara lain aroma dan perisa yang kompleks dan kekentalan yang kuat. International Conference on Coffee Science, Bali, Oktober 2010 menominasikan kopi Dataran Tinggi Gayo ini sebagai the Best No 1, dibanding kopi arabika yang berasal dari tempat lain.