Takengon,Aceh Tengah

Takengon,kota yang di juluki Negeri di atas awan dengan di kelilingin gunung-gunung yang sejuk.

Kopi Gayo

Kopi Gayo adalah salah satu kopi terbaik di dunia,karena cita rasanya yang khas dan banyak di minati wisata asing dan domestik.

Pacuan Kuda Tradisional Gayo

Pacu kuda adalah olahraga tradisonal khas gayo yang memacu lari kudanya di arena pinggiran Danau Lut Tawar (dalam air danau).

Kerawang Gayo

Pakaian Adat yang selalu di kenakan saat acara besar,saat pakaian ini di kenakan menjadi kebanggan sendiri,karena di setiap motif jaitan memilik makna atau nilai yang sangat besar.

Didong Gayo

Didong Gayo adalan salah satu kesenian tradisional gayo,tepukan tangan dan nyanyian dari seorang ceh (vokalis),dulu nya Didong adalah media penyebaran Agama,dan sampai sekarang masih di gunakan,di setiap acara orang Gayo selalu menampilkan Didong di malam hari tetapi dengan nama Didong Jalu (adu karangan kata)

Tampilkan postingan dengan label Atraksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atraksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2016

JABAR OVERLAND 2016

Days 1 Jakarta-Bandung-Pangalengan  Museum Asia-Afrika, Sasana Budaya Ganesha (SABUGA), NUart Galery, Saung Angklung Udjo (SAU), check in
Days 2 Pangalengan-Garut
Rafting at Palayangan River, check in
Days 3 Garut-Pangandaran
Kampung Naga, check in
Days 4 Pangandaran-Jakarta
Batu Karas, Green Canyon
Days 5 Jakarta


Day 1

Perjalanan kami di mulai dari Pondok Cabe langsung menuju Museum Asia-Afrika di  Bandung,di situ akan terlihat kemegahan saat Conference Asia-Afrika pertama yg diadakan di Bandung,dan menjadi sejarah berkumpul nya pemimpin-pemimpin dunia untuk menyatakan kemerkdekaan bersama.Lalu perjalanan kami di lanjutkan ke Sasana Budaya Gaanesha (SABUGA),salah satu gedung yang di miliki Istitue Technology Bandung (ITB) ini biasa di gunakan untuk Event seperti Conference,Pameran,dan banyak lagi.Di dalam kami bisa melihat hasil karya anak bangsa yg sangat luar biasa.Sabuga ini pas buat Wisata Pendidikan.

perjalan kami di laanjutkan lagi ke NUart Galery di seputaran kota Bandung,siapa yg tidak kenal pak Nyoman Nuarta salah satu seniman terbaik Indonesia,yang membuat patung Garuda Wisnu Kencana di Bali,dan masih banyak lagi hasil karyanya di pampangkan di seputaran jalan di kota-kota Indonesia.sesambil kami makan siang kami melihat keindahan kawasan rumah seni NUart yang sejuk dan di hiasi dengan patung-ptung yang seolah hidup.

Perjalanan kamidi hari pertama belum selessai,kami akan mengunjungi Saung Angklung Udjo.Ya Indonesia adalah negara yang sangat akan kaya dengan Budayanya,apa saja bisa di jadikan alat musik termasuk angklung yang sudah mendunia dan telah di akui oleh UNESCO.Di saung mang Udjo kita bisa melihat bagaimana cara pembuatan angklung dan kita bisa melihat penampilan angklung yang luar biasa hebat.Perjalan kami di hari pertama hanya sampai di sini kami akan menuju hotel untuk istirahat dan bersiap untuk perjalanan besok.


DAY 2

Hari kedua ini kami kan Rafting di Sungai Palayangan yang curam,dan ini menjadi tantangan buat kami untuk mengarunginya,tapi kami di pandu oleh pembimbing yang profesional.kami makan siang di tepi Danau buatan di Palayangan tapi sayang sumber air danau masih dalam proses perbaikan,jadi air hanya tersisa sedikit.setelah makan siang perjalanan kami di lanjutkan ke Garut ,dan kami menginap di salah satu hotel di sana.







DAY 3


Kami memulai dengan mengjungi pusat oleh-oleh Garut,lalu kami menuju Kampung Naga,kampung yang masih menjaga adat dan budaya nya dengan ketat.untuk menuju kampung naga kita harus melewati lebih dari 400 anak tangga,untuk melewati itu rasanya tulang kaki mulai terpisah satu demi satu.kampung yang bersuku Sunda ini sama sekali tidak mengikuti perkembangan jaman modern,bisa di lihat dengan bentuk dan bahan tempat tinggal mereka.Di kampung naga ini ada salah satu kawan yang tidak boleh di ambil gambarnya tetapi boleh di lihat,di sini juga terdapat oleh-oleh khas kampung naga


DAY 4

 Perjalan terakhir ini dari hotel menuju Pantai Batu Karas,kami makan siang sambil menikmati keindahan pantai,pantai batu karas ini cocok buat surfing yang masih pemula,lalu kami menuju Green Canyon untuk body rafting tapi kami kurang beruntung ,karena curah hujan yang deras air sungai menjadi coklat sehingga kami tidak bisa body rafting.tapi kami bisa melihat keindahan sebagian Green Canyon melalui kapal boat.Perjalanan kamai pun berakhir disini.

kamu langsung bergegas untuk balik ke Jakarta dari Pangandaran,sebenarnya hari itu berpasan dengan PON JABAR Pacuan Kuda,sebenarnya saya juga berkenginan untuk menghadirinya karena saya hobi dengan pacuan kuda,tapi karena waktu yang tidak memungkinkan akhirnya niat saya gagal.dan saya melihat wajah manyun dari semua teman saya karena tidak bisa body rafting beruntung saya sudah pernah body raftyng di Green Canyon jadi saya tidak begitu kecewa.Jujur perjalanana ini sangat mengesankan  dan banyak memberi ilmu yang baru buat kami bagaimana untuk Guiding yang pantas,menghandle tamu yang baik juga.
Inilah cerita dari tour kami,semoga bermafaat bagi teman semua,BEREJEN!!!

Selasa, 17 November 2015

Atraksi

  Tari guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di Aceh. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografi tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.
              Dalam perkembangannya, tari guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri.







Berdasarkan Cerita Rakyat yang berkembang di tanah Gayo. tari guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Meria yang konon telah meninggal dunia karena pengkhianatan. Mimpi itu menggambarkan Bener Meria memberi petunjuk kepada Sengeda (adiknya), tentang kiat mendapatkan Gajah putih sekaligus cara meenggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahakan kepada Sultan Aceh Darussalam. Adalah sang putri Sultan sangat berhasrat memiliki Gajah Putih tersebut.
Berbilang tahun kemudian, tersebutlah kisah tentang Cik Serule, perdana menteri Raja Linge ke XIV berangkat ke Ibu Kota Aceh Darussalam (sekarang kota Banda Aceh). Memenuhi hajatan sidang tahunan Kesutanan Kerajaan. Nah, Sengeda yang dikenal dekat dengan Serule ikut dibawa serta. Pada saat-saat sidang sedang berlangsung, Sengeda rupanya bermain-main di Balai Gading sambil menikmati keagungan Istana Sultan.
Pada waktu itulah ia teringat akan mimpinya waktu silam, lalu sesuai petunjuk saudara kandungnya Bener Meria ia lukiskanlah seekor gajah berwarna putih pada sehelai daun Neniyun (Pelepah rebung bambu), setelah usai, lukisan itu dihadapkan pada cahaya matahari. Tak disangka, pantulan cahaya yang begitu indah itu mengundang kekaguman sang Puteri Raja Sultan. Dari lukisan itu, sang Putri menjadi penasaran dan berhasrat ingin memiliki Gajah Putih dalam wujud asli.
Permintaan itu dikatakan pada Sengeda. Sengeda menyanggupi menangkap Gajah Putih yang ada dirimba raya Gayo untuk dihadapkan pada tuan puteri dengan syarat Sultan memberi perintah kepada Cik Serule. Kemudian dalam prosesi pencarian itulah benih-benih dan paduan tari guel berasal: Untuk menjinakkan sang Gajah Putih, diadakanlah kenduri dengan meembakar kemenyan; diadakannya bunyi-bunyian dengan cara memukul-mukul batang kayu serta apa saja yang menghasilkan bunyi-bunyian. Sejumlah kerabat Sengeda pun melakukan gerak tari-tarian untuk memancing sang Gajah.

Setelah itu, sang Gajah yang bertubuh putih nampak keluar dari persembunyiaannya. Ketika berpapasan dengan rombongan Sengeda, sang Gajah tidak mau beranjak dari tempatnya. Bermacam cara ditempuh, sang Gajah masih juga tidak beranjak. Sengeda yang menjadi pawang pada waktu itu menjadi kehilangan ide untuk menggiring sang Gajah.
Lagi-lagi Sengeda teringat akan mimpi waktu silam tentang beberapa petunjuk yang harus dilakukan. Sengeda kemudian memerintahkan rombongan untuk kembali menari dengan niat tulus dan ikhlas sampai menggerakkan tangan seperti gerakan belalai gajah: indah dan santun. Disertai dengan gerakan salam sembahan kepada Gajah ternyata mampu meluluhkan hati sang Gajah. Gajah pun dapat dijinakkan sambil diiringi rombongan. Sepanjang perjalanan pawang dan rombongan, Gajah putih sesekali ditepung tawari dengan mungkur (jeruk purut) dan bedak hingga berhari-hari perjalanan sampailah rombongan ke hadapan Putri Sultan di Pusat Kerajaan Aceh Darussalam.
Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.
Begitu juga dalam pertunjukan atraksi Tari guel, yang sering kita temui pada saat upacara perkawinan, khususnya di Tanah Gayo, tetap mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah: dalam Tari guel. Reinngkarnasi kisah tersebut, dalam tari guel, Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.





Di tanah Gayo, dahulunya dikenal begitu banyak penari Guel. Seperti Syeh Ishak di Kampung Kutelintang-Pegasing, Aman Rabu di kampung Jurumudi-Bebesan, Ceh Regom di Toweren. Penari lain yang kurun waktun 1992 sampai 1993 yang waktu itu masih hidup adalah Aman Jaya-Kampung Kutelintang, Umer-Bebesen, Syeh Midin-Silih Nara Angkup, Safie-Gelu Gele Lungi-Pegasing, Item Majid-Bebesen. Mereka waktu itu rata-rata sudah berusia 60-an. Saat ini sudah meninggal sehingga alih generasi penari menjadi hambatan serius.
Walaupun ada penari yang lahir karena bakat sendiri, bukan langsung diajarkan secara teori dan praktik oleh para penari pakar seperti disebutkan, keterampilan menari mereka tak sepiawai para pendahulunya. Begitu juga pengiring penggiring musik tetabuhan seperti Rebana semakin langka, apalagi ingin menyamakan dengan seorang dedengkot almarhum Syeh Kilang di Kemili Bebesen.
Tari guel dibagi dalam empat babakan baku. Terdiri dari babak Mu natap, Babak II Dep, Babak III Ketibung, Babak IV Cincang Nangka. Ragam Gerak atau gerak dasar adalah Salam Semah (Munatap ), Kepur Nunguk, Sining Lintah, Semer Kaleng (Sengker Kalang), Dah-Papan.
Sementara jumlah para penari dalam perkembangannya terdiri dari kelompok pria dan wanita berkisar antara 8-10 ( Wanita ), 2-4 ( Pria ). Penari Pria dalam setiap penampilan selalu tampil sebagai simbol dan primadona, melambangkan aman manyak atau lintoe Baroe dan Guru Didong. Jumlah penabuh biasanya minimal 4 orang yang menabuh canang, gong, gegedem, dan memong.
Tari guel memang unik, pengalaman penulis merasakan mengandung unsur dan karakter perpaduan unsur keras lembut dan bersahaja. Bila para pemain benar-benar mengusai tarian ini, terutama peran Sengeda dan Gajah Putih maka bagi penonton akan merasakan ketakjuban luar biasa.
Seolah-olah terjadinya pertarungaan dan upaya memengaruhi antara Sengeda dan Gajah Putih. Upaya untuk menundukkan jelas terlihat, hingga kipasan kain kerawang Gayo di Punggung Penari seakan mengandung kekuatan yang luar biasa sepanjang taarian. Guel dari babakan ke babakan lainnya hingga usai selalu menawarkan uluran tangan seperti tarian sepasang kekasih di tengah kegundahan orang tuanya. idak ada yang menang dan kalah dalam tari ini, karena persembahan dan pertautan gerak dan tatapan mata adalah perlambang Cinta. Tapi sayang, kini tari guel itu seperti kehilangan Induknya, karena pemerintah sangat perhatian apalagi gempuran musik hingar modern seperti Keyboard pada setiap pesta perkawinan di daerah itu.




 Referensi:

  • Junus Djamil, Gadjah Putih, Banda Aceh, Lembaga Kebudayaan Atjeh, 1958
  • Ridwan H. Muchtar, Hikayat Tari guel, Serambi, Rabu, 31 Desember 1969





Jumat, 14 Agustus 2015

Didong Gayo

Didong

              Didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur Tari, Vokal, dan Sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Salah seorang seniman yang peduli pada kesenian ini adalah Abdul Kader To'et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.


              Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran Agama Islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.




              Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.
              Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.
               Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk Kesenian lain yang ada di Aceh.















Pacuan Kuda Tradisional Gayo

            
             Penyelenggaraan even Pacu Kude (Kuda-red) di Gayo selalu ditunggu-tunggu baik oleh warga setempat maupun warga kabupaten di sekitarnya.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, di dataran tinggi Gayo even ini digelar 4 kali dalam setahunnya, masing-masing 2 kali di kabupaten Aceh Tengah, dan 1 kali di Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues. Pesertanya pun kian lama semakin bertambah dan kualitas perlombaan juga semakin baik, sayangnya nilai ke-tradisional-an pacu kude kian memudar disebabkan oleh beberapa faktor teknis dan non teknis.
              Dalam beberapa catatan sejarah serta dari cerita mulut ke mulut, pacu kude di Gayo dimulai dari Bintang, kemukiman paling timur danau Lut Tawar Aceh Tengah. Mengutip dari buku Pacu Kude; Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo yang di tulis Piet Rusydi dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh tahun 2011, pacu kude pertama-tama digelar sekitar tahun 1850 dengan arena pacuan melintasi Wekef hingga Menye berjarak lebih kurang 1,5 kilometer, rutenya memanjang, bukan memutar seperti saat ini. Saat itu, pacu kude diselenggarakan saat luah berume atau lues belang (setelah panen padi-red).
Sebelum Urang Gayo mengenal sarana transportasi moderen, kuda memiliki peran penting dalam banyak hal di Gayo terutama sebagai sarana transportasi barang dan manusia serta kegiatan olah tanah di sawah.
          Selanjutnya menurut AR. Hakim Aman Pinan dalam bukunya Pesona Tanoh Gayo, menyatakan pacu kude di pante Menye Bintang diselenggarakan saat pagi dan sore hari, setelah ashar. Satu sisi line pacuan dibatasi dengan air danau Lut Tawar dan sisi lainnya (timur) dengan pagar Geluni. Saat itu joki tidak dibenarkan memakai baju alias telanjang dada.
Saat itu tidak ada disediakan hadiah, para pemenang hanya memperoleh “Gah” atau nama besar (marwah-red). Biasanya, pacu kude dilanjutkan dengan perayaan atau syukuran luah munoling (paska panen padi) yang biayanya diperoleh dengan berpegenapen (saling menyumbang biaya dan perlengkapan lainnya).
             Versi lainnya, menurut ditulis Piet Rusydi, pacu kude adalah kegiatan iseng para pemuda setelah munoling (panen padi) khususnya di Bintang. Kuda-kuda yang berkeliaran saat Lues Belang ditangkap dengan opoh kerung (kain sarung-red) dan di pacu. Tradisi ini tanpa disadari dijadikan even tetap mulai tahun 1930 yang melibatkan kuda-kuda serta joki dari beberapa kampung.

Pacu kuda di Gayo Lues, Sabtu 31 Agustus 2013. (Kha A Zaghlul)
Pacu kuda di Gayo Lues, Sabtu 31 Agustus 2013. (Kha A Zaghlul)

                Karena masyarakat Gayo sangat antusias menyaksikan pacu kude ini, sebelumnya di tahun 1912 penjajah Belanda melihat menggelar pacu kude di Takengon dengan lintasan lurus sepanjang jalan depan Rumah Sakit lama (Kampus STAIN Gajah Putih sekarang) hingga Tan Saril. Namun karena membahayakan warga, pacu kude kemudian dipindahkan ke lapangan Belang Kolak yang kemudian bernama Gelengang Musara Alun, lintasan pacu kude berubah menjadi oval, diberi pagar pembatas berupa tersik (tonggak kayu) serta radang (sejenis rotan).
            Menurut Almarhum Tgk. H. M. Ali Salwani yang dinyatakan kepada salah seorang mahasiswa Universitas Abulyatama Aceh Besar, Muhammad (1996) dalam laporan penelitian yang berjudul Eksistensi Olahraga Pacuan Kuda Tradisional di Kabupaten Aceh Tengah Tahun 1995, even ini di gelar Belanda untuk memeriahkan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus.
               Dari sumber lain, saat itu mulai disediakan hadiah berupa piagam dan jam Beker (Weker). Karena hadiahnya Beker sebutan kuda pemenang hingga saat ini masih disebut kuda Beker alias kuda kuda juara. Uniknya, jika kuda betina yang memperoleh juara maka dinamakan sebagai Kude Dompet, tidak jelas kapan istilah ini muncul.
               Saat penjajahan Jepang, satu versi menyatakan tetap ada even pacu kude seperti dituturkan  mantan Juru Penerang (Jupen) Kabupaten Aceh Tengah, Abd. Majid. Tapi versi lain menyatakan tidak pernah diselenggarakan karena saat itu tentara Jepang mengambil alih kepemilikan kuda sebagai sarana transportasi mereka. Selain itu, masyarakat Gayo sangat menderita saat itu, bahkan pakaian yang dikenakanpun dibuat dari kulit kayu dan goni.
             Kelas atau kategori perlombaan saat itu hanya dikenal tiga kelas yakni kelas kuda muda (usia 2-4 tahun), kuda dewasa (4-6 tahun) dan kelas kuda tua (berusia diatas 6 tahun), jantan dan betina. Lintasan pacu bagi kuda muda berjarak satu  keliling (putaran) lapangan Musara Alun (lebih kurang 1 kilometer), kuda dewasa 2 keliling dan kuda tua sejauh 3 kali keliling.
             Dulu, menentukan kategori pacu untuk seekor kuda tidak terlalu rumit dan langka terjadi percekcokan, selain jumlah kuda peserta masih terbilang sedikit juga faktor kejujuran dan kebersamaan para pemilik kuda lebih dikedepankan ketimbang menjadi juara.
Paska kemerdekaan RI, mulai tahun 1950 pacu kude juga sempat digelar oleh masyarakat, saat itu kuda-kuda dari Bintang, Kenawat, Pegasing dan Kebayakan yang paling aktif ikut serta. Bahkan saking antusiasnya warga dan peserta pacu kude dari Kenawat, di Gelengang Musara Alun sempat ada nama tempat yang agak tinggi dibanding bagian lapangan lainnya dinamakan “Buntul Kenawat”, di lokasi ini berkumpul kuda-kuda, joki dan pendukung dari Kenawat.
Seiring dengan terbentuknya kabupaten Aceh Tengah tahun 1956, penyalenggaraan even pacu kude diambil alih oleh Pemerintah Aceh Tengah.

Pacuan kuda Gayo di Lapangan Sengeda Bener Meriah. (LGco-Kha A Zaghlul)
Pacuan kuda Gayo di Lapangan Sengeda Bener Meriah. (LGco-Kha A Zaghlul)

             Penyelengaraan pacu kude terus berlanjut yang digelar dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam sejarahnya, pacu kude Gayo sempat di gelar selain memperingati HUT RI yakni pada bulan Maret tahun 1992 yang digagas oleh Dandim 0106 Aceh Tengah.
              Pacu kude Gayo juga sempat diselenggarakan di Banda Aceh di tahun 1994, persisnya di lapangan Jeulingke Banda Aceh. Saat itu, tokoh masyarakat Gayo, Husni Darma menjabat sebagai Pimpinan Proyek (Pimpro) di Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Aceh.
Saat bupati Aceh Tengah di jabat oleh Drs. Buchari Ishaq, persisnya di tahun 1995 melalui Dinas Peternakan mengglirkan program peningkatan kualitas kuda pacu dengan mendatang bibit kuda pejantan dari Padang Sumatera Barat yang kemudian juga kuda-kuda pejantan dari Australia. Keturunan dari kuda-kuda hasil kawin silang ini kemudian dikenal dengan nama kuda Astaga atau kuda blasteran Australia-Gayo yang ciri-ciri posturnya lebih tinggi dan larinya lebih cepat.
Karena pengunjung pacu kude semakin banyak, Gelengang Musara Alun dinilai tidak cocok lagi sebagai tempat penyelenggaraannya. Dan saat bupati Aceh Tengah dijabat Drs. H. Mustafa M. Tamy dengan persetujuan masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), di tahun 2002 penyelenggaraan pacu kude dipindahkan ke Pegasing, persisnya di Lapangan H. Muhammad Hasan Gayo Belang Bebangka.
           Seiring dengan pemindahan arena pacu kude ini, kuda peserta juga semakin meluas, sebelumnya hanya seputar Aceh Tengah, termasuk kabupaten Bener Meriah sebelum dimekarkan dan dari kabupaten Gayo Lues yang dalam sejarahnya telah mengenal pacu kude sejak tahun 1936.
Penyelenggaraan pacu kude di Takengon Kabupaten Aceh Tengah semakin diminati, bukan saja oleh warga setempat namun dari pesisir Aceh, Sumatera Utara bahkan mancanegara. Even ini menjadi salah satu even di Aceh yang paling diminati wisatawan. Dan setelah ditetapkannya Hari Jadi Kota Takengon itu pada 17 Februari 1577 oleh DPRK Aceh Tengah dengan  Qanun Kabupaten Aceh Tengah nomor 10 tahun 2010 penyelenggaraan pacu kude sejak tahun 2011 menjadi 2 kali dalam setahun, memperingati HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus dan memperingati HUT Kota Takengon di bulan Februari.
              Kabupaten Bener Meriah yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2005 juga mulai menggelar even ini sejak tahun 2006 di lapangan Sengeda yang berlokasi di kaki Burni Telong  berdekatan dengan Bandar Udara (Bandara) Rembele dibangun saat Ir. Tagore Abubakar sebagai Bupati. Di Bener Meriah, pacu kude digelar dalam memperingati Hari Jadi Kabupaten yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Januari 2004.

Keseharian anak-anak Gayo dengan kuda di danau Lut Tawar. (Foto : Khalisuddin)
Keseharian anak-anak Gayo dengan kuda di danau Lut Tawar. (Foto : Khalisuddin)

             Sementara di Kabupaten Gayo Lues yang dimekarkan dari Aceh Tenggara dengan Dasar Hukum UU No.4 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002 juga menggelar pacu kude dalam memperingati Hari Jadi kabupaten tersebut atau memperingati HUT Kemerdekaan RI sejak tahun 2009 yang pertama digelar di Buntul Tajuk dan sejak tahun 2010 pacu kude mulai digelar di lapangan Buntul Nege setelah dipandang layak digunakan.
              Ada satu yang selalu terngiang di telinga  warga Gayo saat digelarnya Pacu Kude, yakni teriakan panjang saat kuda dilepas (start) oleh Master of Ceremony (MC), “wasaluaaaaaleeeeeeeee” itulah pekikan khas jika kuda sedang berlari berpacu menuju garis finish. Pekikan ini, tanpa disadari juga sebagai aba-aba bagi pengunjung untuk tidak lalu lalang di arena pacu kude.
              Aturan teknis pacu kude juga tak lepas dari dinamika sesuai perkembangan zaman. Dulu cara start pacu kude hanya dengan selembar bendera yang diikuti dengan aba-aba “lepas”. Kuda yang akan berpacu dipegang oleh satu orang dan satu orang lainnya masing-masing berada dibelakang kuda untuk menghalau atau memecut kuda agar berlari. Metode start ini kerap menjadi biang keributan antar pemilik dan joki sehingga pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga mulai memakai Starting Gate sebagai alat melepas kuda pacu. Sejak dipakainya alat ini, nyaris tidak terdengar lagi keributan.
Seiring dengan makin berkualitasnya kuda pacu, para joki juga mulai memakai pelana dan alat keamanan lainnya saat memacu kuda. Pelana ini umumnya dipakai pada kuda-kuda yang bertanding di kelas A, bukan di kuda lokal.

Banyak “ter” nya
            
Pacu kude di Gayo menurut Pengurus Besar Persatua Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PB-PORDASI), yang berkunjung ke Takengon saat pacu kude bulan Nopember 2013, Drh. Sridadi Wiryosuhano paling banyak “ter”nya di Indonesia.
             Pacu Kude Gayo itu “terunik” karena ketentuan pacuan berdasarkan tinggi badan dan umur kuda sementara di aturan PORDASI itu tidak dikenal. Selanjutnya “terbanyak” pesertanya yakni tidak kurang dari 300 ekor kuda sementara di even lain di Indonesia hanya beberapa ekor kuda saja. Lalu “terbanyak” penontonnya, didaerah lain di Indonesia tidak ada even pacu kuda yang menyedot puluhan ribu orang.
          Selanjutnya “terbahaya” karena umumnya para joki tidak dilengkapi dengan peralatan pengaman seperti pelana, helm, kacamata dan sepatu. Selain itu penonton juga bisa dengan leluasa masuk ke lintasan pacu saat kuda sedang berlari kencang. tercatat beberapa kali terjadi kecelakaan baik menimpa joki maupun pengunjung bahkan beberapa diantaranya hingga meninggal dunia terlindas kuda.

Referensi :
AR. Hakim Aman Pinan, Pesona Tanoh Gayo, Takengon, 2013
Piet Rusdi, Pacu Kude: Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo, Balai Pelestarian dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2011
Muhammad, Laporan Penelitian Eksistensi Olahraga Pacuan Kuda Tradisional di Kabupaten Aceh Tengah, Universitas Abulyatama, 1995
Kata PB PORDASI Pacu Kuda Gayo Paling “Ter” di Indonesia | Media Online Dataran Tinggi GAYO | www.lintasgayo.co